Contoh Penyakit Akibat Kerja dan Inilah Pencegahannya

Pernahkah berpikir bahwa pekerjaan yang Anda lakukan sekarang bisa menimbulkan penyakit atau risiko kesehatan? Terlebih, bila Anda bekerja di industri penuh risiko seperti pertambangan, konstruksi, manufaktur, migas, dan lain sebagainya. Potensi penyakit akibat kerja bisa saja muncul kapan saja jika Anda tidak waspada sejak awal serta menerapkan prosedur keselamatan kerja. Terkadang, Anda tidak menyadari bahwa hal-hal sepele bisa memberikan dampak negatif bagi kesehatan, baik secara fisik maupun mental. Jadi, yuk, pahami berbagai contoh penyakit akibat kerja yang perlu Anda waspadai serta upaya pencegahannya. 

Apa Itu Penyakit Akibat Kerja (PAK)

Melansir dari Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 7 Tahun tentang Penyakit Akibat Kerja, definisi penyakit akibat kerja merujuk pada risiko kesehatan atau penyakit yang diakibatkan oleh pekerjaan maupun lingkungan kerja yang tidak aman. Kondisi ini biasanya berkembang secara bertahap karena paparan risiko berbahaya dalam jangka waktu tertentu, seperti bahan kimia, kebisingan, atau postur kerja yang tidak ergonomis. 

Penyakit ini tidak hanya menyerang fisik, tetapi juga dapat mempengaruhi kondisi mental pekerja. Oleh karena itu, penting bagi perusahaan dan pekerja untuk mengenali potensi bahaya sejak awal agar dapat mencegah terjadinya gangguan kesehatan.

Contoh Penyakit Akibat Kerja yang Umum Terjadi

1. Dermatitis Kontak

Dermatitis kontak adalah peradangan kulit yang terjadi akibat paparan bahan iritan atau alergen di tempat kerja, seperti bahan kimia, deterjen, atau logam tertentu. Pekerja di industri manufaktur, laboratorium, dan cleaning service sangat rentan mengalami kondisi ini. Gejalanya meliputi kulit merah, gatal, kering, hingga melepuh.

2. Asma akibat Kerja

Asma akibat kerja disebabkan oleh paparan debu, gas, uap, atau zat kimia tertentu yang terhirup secara terus-menerus. Pekerja di industri tekstil, pertambangan, dan konstruksi sangat mungkin mengalami risiko ini. Gejala yang muncul meliputi sesak napas, batuk, dan mengi.

3. Penyakit Paru

Penyakit paru akibat kerja, seperti pneumokoniosis atau silikosis, sering terjadi pada pekerja yang terpapar debu mineral, seperti silika atau asbes. Paparan jangka panjang dapat menyebabkan kerusakan permanen pada paru-paru dan menurunkan kapasitas pernapasan. 

4. Keracunan akibat Paparan Bahan Kimia Beracun

Contoh penyakit akibat kerja yang mungkin saja terjadi ketika Anda bekerja di industri kimia hingga manufaktur adalah keracunan dapat terjadi akibat paparan bahan kimia berbahaya seperti logam berat, pestisida, atau gas beracun. Paparan bisa terjadi melalui inhalasi, kontak kulit, atau tertelan. Dampaknya bisa berupa gangguan saraf, kerusakan organ, hingga kematian jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat.

5. Gangguan pada Sistem Otot maupun Jaringan Penopang Tubuh

Gangguan ini dikenal sebagai musculoskeletal disorders (MSDs), yang disebabkan oleh aktivitas berulang, posisi kerja yang tidak ergonomis, atau mengangkat beban berat. Contohnya adalah nyeri punggung, carpal tunnel syndrome, dan cedera sendi. 

6. Gangguan Pendengaran

Paparan kebisingan tinggi dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan gangguan pendengaran permanen. Pekerja di sektor industri, bandara, dan konstruksi sangat mungkin mengalami contoh penyakit akibat kerja ini. 

7. Kanker akibat Paparan Bahan Berbahaya di Tempat Kerja

Beberapa bahan berbahaya seperti asbes, benzena, dan radiasi dapat memicu kanker jika terpapar dalam jangka panjang. Jenis kanker yang sering terjadi antara lain kanker paru, kulit, dan leukemia. Risiko ini meningkat jika tidak ada kontrol paparan yang ketat di tempat kerja.

8. Stres akibat Kerja

Stres kerja terjadi akibat tekanan pekerjaan yang berlebihan, lingkungan kerja yang tidak kondusif, atau konflik antar pekerja. Dampaknya tidak hanya pada kesehatan mental, tetapi juga fisik, seperti gangguan tidur, tekanan darah tinggi, hingga penurunan produktivitas.

Faktor Penyebab Penyakit Akibat Kerja

1. Paparan Bahan Kimia Beracun & Berbahaya

Bahan kimia seperti pelarut, gas, dan logam berat dapat masuk ke dalam tubuh melalui pernapasan, kulit, atau pencernaan. Tanpa pengendalian yang tepat, paparan ini dapat menyebabkan keracunan akut maupun kronis yang berdampak serius pada kesehatan pekerja.

2. Bahaya Biologis di Tempat Kerja

Paparan mikroorganisme seperti bakteri, virus, atau jamur sering terjadi pada sektor kesehatan, laboratorium, dan pengolahan limbah. Risiko infeksi meningkat jika pekerja tidak menggunakan perlindungan yang sesuai.

3. Faktor Ergonomis

Posisi kerja yang salah, gerakan berulang, dan penggunaan alat yang tidak sesuai dapat menyebabkan cedera pada otot dan tulang. Faktor ini sering diabaikan, padahal dampaknya bisa jangka panjang.

4. Faktor Psikososial

Lingkungan kerja yang penuh tekanan, beban kerja berlebihan, serta kurangnya dukungan dari manajemen dapat memicu stres dan gangguan mental. Faktor ini juga dapat mempengaruhi kesehatan fisik pekerja.

5. Bahaya Fisik

Bahaya fisik meliputi kebisingan, getaran, suhu ekstrem, dan radiasi. Paparan terus-menerus tanpa perlindungan dapat menyebabkan gangguan kesehatan serius, seperti gangguan pendengaran atau heat stress.

Penyakit Akibat Kerja

Upaya Pencegahan Penyakit Akibat Kerja

1. Mewajibkan Semua Pekerja pakai APD Lengkap

Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) seperti helm, masker, sarung tangan, dan pelindung telinga sangat penting untuk melindungi pekerja dari paparan bahaya. Dari beberapa contoh penyakit akibat kerja di atas salah satu aspek penyebabnya adalah pekerja yang tidak memakai APD lengkap.

2. Selalu Identifikasi Risiko Sebelum Bekerja

Identifikasi bahaya dan penilaian risiko (HIRADC) perlu dilakukan sebelum memulai pekerjaan. Langkah ini membantu perusahaan dalam menentukan tindakan pengendalian yang tepat.

3. Memastikan Lingkungan Kerja Ergonomis

Desain tempat kerja yang ergonomis dapat mengurangi risiko cedera otot dan tulang. Penyesuaian posisi kerja, alat bantu, dan tata letak sangat penting untuk kenyamanan dan keselamatan pekerja.

4. Terapkan Prosedur K3 yang Benar

Penerapan prosedur Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) harus dilakukan secara konsisten. Hal ini mencakup pelatihan, pengawasan, serta penegakan aturan di lingkungan kerja.

5. Pastikan Beban Kerja Tidak Melebihi Batas Kemampuan

Manajemen perlu mengatur beban kerja agar sesuai dengan kapasitas pekerja. Beban kerja yang berlebihan dapat menyebabkan kelelahan, stres, dan meningkatkan risiko kecelakaan kerja. Dari sisi Anda sendiri sebagai pekerja juga wajib aware terhadap pekerjaan yang dilakukan, jangan sampai melebihi batas kemampuan.

6. Lakukan Pemeriksaan Kesehatan secara Berkala

Pemeriksaan kesehatan rutin membantu mendeteksi dini penyakit akibat kerja. Dengan demikian, penanganan dapat dilakukan lebih cepat sebelum kondisi menjadi lebih serius.

Dampak Penyakit Akibat Kerja

Penyakit akibat kerja tidak hanya berdampak pada kesehatan individu pekerja, tetapi juga pada perusahaan secara keseluruhan. Dari sisi pekerja, penyakit akibat kerja ini dapat menurunkan kualitas hidup, menyebabkan kecacatan, bahkan kematian. 

Sementara itu, bagi perusahaan, dampaknya meliputi penurunan produktivitas, meningkatnya biaya pengobatan dan kompensasi, serta potensi kerugian reputasi. Dalam jangka panjang, penyakit ini juga dapat mempengaruhi stabilitas operasional perusahaan jika tidak ditangani dengan serius melalui sistem manajemen K3 yang efektif.

Penutup

Memahami apa saja contoh penyakit akibat kerja, faktor penyebab, hingga upaya pencegahannya memastikan Anda bekerja lebih aman, sehingga tidak terjadi kecelakaan. Pengetahuan ini bisa Anda lakukan dengan mengenali potensi bahaya, menerapkan prosedur kerja yang aman, hingga memastikan pemakaian APD lengkap.

Selain itu, untuk meningkatkan kompetensi dan pemahaman Anda dalam menerapkan prosedur K3, mengikuti pelatihan AK3U di PT Mandiri Maha Daya menjadi langkah yang tepat. Pelatihan ini akan membekali Anda tentang upaya pencegahan penyakit akibat kerja serta implementasi standar K3 yang aman di tempat kerja. Dengan begitu, risiko kecelakaan bisa diminimalisir dan produktivitas kerja meningkat. Jadi, yuk, langsung hubungi admin marketing kami untuk mengikuti pelatihannya sekarang juga!