Eskalator memang memudahkan orang berpindah lantai tanpa harus naik tangga. Namun, karena terus bergerak dengan mekanisme mekanis dan listrik, eskalator tetap memiliki potensi bahaya. Kecelakaan bisa terjadi hanya karena pengguna kehilangan keseimbangan, pakaian tersangkut, atau komponen keselamatan tidak bekerja sebagaimana mestinya. Memahami penyebab kecelakaan pada eskalator penting bagi pengguna maupun pihak yang bertanggung jawab terhadap keselamatan fasilitas. Bagi HSE, misalnya, eskalator perlu dipandang sebagai bagian dari sistem kerja yang harus diperiksa dan dikendalikan risikonya, bukan sekadar fasilitas transportasi vertikal. Data U.S. Consumer Product Safety Commission (CPSC) menunjukkan bahwa sebagian besar cedera terkait eskalator berasal dari jatuh, sementara sebagian lainnya terjadi karena tangan, kaki, atau sepatu terjepit.
Mengapa Kecelakaan Eskalator Masih Sering Terjadi?
Kecelakaan eskalator umumnya tidak disebabkan oleh satu faktor saja. Ada interaksi antara perilaku pengguna, kondisi lingkungan, pemeliharaan, dan kondisi teknis eskalator. Dari sisi pengguna, kurangnya perhatian menjadi salah satu masalah utama. Orang dapat menggunakan eskalator sambil melihat ponsel, membawa barang terlalu banyak, bercanda, atau berdiri terlalu dekat dengan sisi anak tangga. Kebiasaan yang terlihat sepele tersebut dapat meningkatkan risiko kehilangan keseimbangan atau terjepit. Sementara itu, dari sisi teknis, eskalator memiliki banyak komponen yang terus mengalami gesekan dan beban selama beroperasi. Jika inspeksi dan pemeliharaan tidak dilakukan secara rutin, komponen dapat mengalami keausan, gangguan mekanis, hingga kegagalan sistem keselamatan. Oleh karena itu, penyebab kecelakaan pada eskalator sebaiknya dianalisis menggunakan pendekatan K3 secara menyeluruh. Bukan hanya mencari siapa yang melakukan kesalahan, tetapi juga melihat apakah prosedur, inspeksi, pemeliharaan, dan pengendalian risikonya sudah berjalan.
Kesalahan Pengguna yang Menyebabkan Kecelakaan
1. Berdiri Terlalu Dekat dengan Sisi Eskalator
Bagian sisi anak tangga memiliki area yang berpotensi menyebabkan kaki atau sepatu terjepit. Berdiri terlalu dekat dengan sisi eskalator membuat kaki lebih mudah masuk ke celah antara anak tangga dan sisi samping. Pengguna sebaiknya berdiri di bagian tengah anak tangga dan tetap menghadap ke arah perjalanan. Tujuan pengguna menghindari sisi anak tangga karena terdapat risiko terjepit. Contoh: seseorang berdiri sambil menyeret ujung sepatunya di sisi anak tangga. Ketika eskalator bergerak, sepatu dapat tersangkut dan menyebabkan pengguna kehilangan keseimbangan.
2. Tidak Berpegangan pada Handrail
Handrail bukan hanya sebagai pegangan tambahan, tetapi membantu menjaga keseimbangan selama eskalator bergerak. Tidak berpegangan meningkatkan risiko jatuh ketika seseorang kehilangan keseimbangan atau ketika terjadi perubahan gerakan. Risiko semakin besar bagi lansia, anak-anak, atau orang yang membawa banyak barang. Contoh: seseorang naik eskalator sambil bermain ponsel dan tidak berpegangan pada handrail. Ketika pengguna di belakangnya tidak sengaja menyenggol tubuhnya, ia kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh dari anak tangga eskalator.
3. Bermain atau Bercanda di Atas Eskalator
Duduk di anak tangga, berlari, melompat, atau saling mendorong dapat membuat posisi tubuh tidak stabil. Jika seseorang jatuh, pengguna lain di belakangnya juga dapat ikut terjatuh. Selain itu, disarankan agar anak-anak tidak duduk atau bermain di atas anak tangga eskalator. Contoh: dua orang anak bercanda dengan saling mendorong saat sedang naik eskalator. Salah satu anak kehilangan keseimbangan dan jatuh ke anak tangga, sehingga orang yang berada di belakangnya hampir ikut terjatuh.
4. Membawa Barang yang Menghalangi Pandangan
Tas, kardus, koper, atau barang belanjaan berukuran besar dapat menghalangi pandangan ke arah anak tangga. Akibatnya, pengguna bisa terlambat merespons ketika hendak naik atau turun dari eskalator. Situasi ini juga menyulitkan pengguna melihat posisi kaki dan area sekitar anak tangga. Contoh: seseorang membawa kardus besar yang menutupi sebagian besar pandangannya saat turun menggunakan eskalator. Ketika sampai di ujung eskalator, ia tidak melihat bahwa anak tangga sudah hampir berakhir sehingga langkahnya tidak tepat dan ia kehilangan keseimbangan.
5. Menggunakan Troli atau Kereta Bayi di Eskalator
Troli dan kereta bayi tidak dirancang untuk digunakan di atas eskalator. Roda dapat kehilangan kestabilan atau tersangkut pada bagian eskalator sehingga menyebabkan troli terbalik. U.S. Consumer Product Safety Commission (CPSC) merekomendasikan agar anak tidak dibawa menggunakan stroller, walker, atau cart di eskalator. Untuk kondisi seperti ini, lift atau jalur akses khusus jauh lebih aman. Contoh: seseorang membawa kereta bayi menggunakan eskalator karena tidak ingin mencari lift. Ketika eskalator bergerak, roda depan kereta bayi tidak stabil dan tersangkut pada bagian anak tangga, sehingga kereta bayi hampir terbalik dan membahayakan anak di dalamnya.
6. Menggunakan Eskalator dengan Pakaian atau Tali Barang yang Menjuntai
Pakaian longgar, tali tas, syal, atau aksesori yang menjuntai dapat masuk ke celah atau bagian bergerak eskalator. Ketika bagian tersebut tertarik mekanisme, pengguna dapat kehilangan keseimbangan atau mengalami cedera akibat terjepit. Oleh karena itu, pakaian dan tali barang sebaiknya dirapikan sebelum menggunakan eskalator. Contoh: seseorang menggunakan eskalator dengan syal panjang yang dibiarkan menjuntai di samping tubuhnya. Ketika eskalator bergerak, ujung syal tersangkut di bagian sisi eskalator sehingga tertarik dan membuat pengguna panik serta kehilangan keseimbangan.
7. Membawa Anak Tanpa Pengawasan
Anak-anak cenderung memiliki keseimbangan dan kontrol gerak yang belum sebaik orang dewasa. Mereka juga lebih mudah terdistraksi dan tertarik menyentuh bagian eskalator. Orang dewasa sebaiknya selalu mendampingi anak, memegang tangannya, dan memastikan anak berdiri dengan posisi aman. Pengawasan menjadi semakin penting ketika eskalator berada di area dengan lalu lintas pengguna yang padat. Contoh: seorang anak naik eskalator tanpa didampingi dan berjalan mendekati sisi anak tangga karena tertarik melihat bagian yang bergerak. Kakinya terlalu dekat dengan celah sisi eskalator sehingga berisiko terjepit dan menyebabkan anak kehilangan keseimbangan.
Pakaian dan Barang yang Berisiko Terjepit
Selain perilaku pengguna, benda yang dikenakan atau dibawa juga dapat menjadi bahaya eskalator, di antaranya:
- Sepatu berbahan lunak atau fleksibel: lebih mudah berubah bentuk dan masuk ke celah di sisi anak tangga. U.S. Consumer Product Safety Commission (CPSC) pernah melaporkan sejumlah kasus kaki atau sepatu terjepit, termasuk yang melibatkan jenis sepatu fleksibel.
- Tali sepatu yang tidak terikat: dapat terseret dan mengganggu posisi kaki ketika eskalator bergerak.
- Syal atau pakaian panjang: bagian yang menjuntai berpotensi tersangkut pada bagian bergerak.
- Tali tas: terutama jika dibiarkan menjuntai di dekat sisi eskalator.
- Kantong belanja atau plastik: dapat terseret atau menghalangi pandangan pengguna.
- Barang berukuran besar: meningkatkan risiko pengguna kehilangan keseimbangan karena tidak dapat melihat anak tangga dengan jelas.
Risiko pada Anak-Anak dan Lansia
Anak-anak dan lansia termasuk kelompok yang membutuhkan perhatian lebih ketika menggunakan eskalator. Anak-anak memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil sehingga bagian kaki, tangan, atau pakaian mereka relatif lebih dekat dengan area yang berpotensi menjadi titik jepit. Sementara itu, lansia dapat memiliki keseimbangan dan kecepatan reaksi yang lebih rendah. Perubahan posisi saat naik atau turun dari eskalator dapat membuat mereka lebih mudah kehilangan keseimbangan. Karena itu, pendampingan menjadi salah satu langkah penting. Anak perlu dipegang tangannya, sedangkan lansia sebaiknya menggunakan handrail dan tidak terburu-buru saat memasuki maupun meninggalkan eskalator.

Faktor Teknis yang Memicu Kecelakaan
1. Komponen Sudah Aus
Eskalator bekerja dengan banyak komponen mekanis yang mengalami gesekan dan beban berulang. Komponen yang aus dapat menyebabkan pergerakan tidak normal, getaran, suara abnormal, atau perubahan kecepatan.
2. Sistem Keselamatan Tidak Berfungsi
Eskalator dilengkapi berbagai sistem keselamatan untuk membantu menghentikan operasi ketika terjadi kondisi abnormal. Jika sistem tersebut gagal berfungsi atau tidak diperiksa secara berkala, kondisi berbahaya dapat berlangsung tanpa respons yang semestinya.
3. Kerusakan pada Anak Tangga dan Rantai Penggerak
Anak tangga dan rantai penggerak merupakan bagian penting dalam pergerakan eskalator. Kerusakan, ketidaksejajaran, atau masalah pada mekanisme penggeraknya dapat menyebabkan gerakan tidak stabil. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko pengguna kehilangan keseimbangan atau terjadi gangguan pada perjalanan eskalator.
4. Gangguan Sistem Kelistrikan
Eskalator menggunakan sistem kelistrikan untuk menggerakkan dan mengendalikan berbagai komponennya. Gangguan pada motor, panel kontrol, sensor, kabel, atau sistem proteksi dapat menyebabkan eskalator berhenti atau beroperasi tidak normal.
5. Kerusakan pada Comb Plate
Comb plate merupakan bagian di ujung eskalator yang mempertemukan anak tangga dengan area lantai. Bagian ini harus berada dalam kondisi baik dan sesuai dengan sistem keselamatan eskalator. Kerusakan, posisi yang tidak tepat, atau kondisi yang tidak sesuai dapat meningkatkan risiko kaki atau benda tersangkut ketika pengguna memasuki atau meninggalkan eskalator.
6. Adanya Masalah pada Handrail
Handrail yang bergerak tidak sinkron, rusak, atau mengalami gangguan dapat membuat pengguna kesulitan mempertahankan keseimbangan. Padahal, pegangan ini menjadi salah satu elemen penting untuk membantu pengguna tetap stabil selama perjalanan. Oleh karena itu, pemeriksaan handrail perlu menjadi bagian dari inspeksi keselamatan eskalator, bersama dengan anak tangga, comb plate, sistem pengereman, sensor, dan komponen keselamatan lainnya.
Tingkatkan Keselamatan Pengunjung dengan Mengikuti Pelatihan K3 Teknisi Eskalator di PT Mandiri Maha Daya!
Informasi seputar penyebab kecelakaan pada eskalator tidak hanya sebagai wawasan pengunjung saja. Melainkan, operator dan teknisi eskalator juga perlu memahaminya untuk mencegah terjadinya kecelakaan. Jika Anda seorang teknisi eskalator, memastikan komponen alat berfungsi dengan normal jadi tugas utama. Oleh karena itu, wawasan dan kemampuan Anda dalam melakukan inspeksi maupun merawat eskalator sangatlah penting. Untuk memastikan keselamatan pengunjung terjaga, tingkatkan kemampuan Anda dengan mengikuti pelatihan K3 Teknisi Eskalator di PT Mandiri Maha Daya. Bersama instruktur profesional, Anda akan didampingi mulai dari teori hingga praktik langsung dalam memastikan eskalator aman secara teknis dipakai oleh pengguna. Jadi, langsung saja hubungi tim marketing kami untuk mengikuti pelatihannya sekarang!

