Panduan Menghitung Kebutuhan Scaffolding Sebuah Bangunan

Bila Anda pekerja ketinggian, tentu sudah tidak asing lagi dengan scaffolding, yakni struktur sementara untuk menopang material maupun pekerja. Tak heran, bila setiap kebutuhan yang turut diangkat wajib dihitung terlebih dahulu agar sesuai beban maksimum yang diizinkan, sehingga meminimalisir kecelakaan. Namun, tak sedikit operator, termasuk Anda sendiri masih bingung cara menghitung kebutuhan scaffolding pada sebuah bangunan. Padahal, tahapan ini penting dilakukan sebelum proses pekerjaan dilakukan. Kesalahan hitung dapat berujung pada risiko kecelakaan hingga kerusakan peralatan. Jadi, Anda wajib memahami cara menghitung kebutuhan scaffolding pada sebuah bangunan yang tepat. Nah, artikel ini akan menjelaskan secara rinci. Jadi, simak terus, ya!

Apa Itu Scaffolding dan Mengapa Perlu Dihitung Kebutuhannya?

Scaffolding adalah struktur sementara yang digunakan sebagai penopang pekerja, material, dan peralatan saat pekerjaan dilakukan di ketinggian. Fungsinya tidak hanya untuk akses kerja, tetapi juga sebagai sistem pengaman agar pekerjaan berjalan stabil dan aman. Perannya yang sangat penting, maka kebutuhan scaffolding harus dihitung karena setiap proyek memiliki karakteristik berbeda, mulai dari tinggi bangunan, luas area kerja, hingga jenis pekerjaan yang dilakukan. Perhitungan yang tepat memastikan scaffolding mampu menahan beban kerja, memenuhi standar keselamatan, dan tidak kekurangan atau kelebihan material di lapangan.

Langkah-langkah Menghitung Kebutuhan Scaffolding

Memahami cara menghitung kebutuhan scaffolding dalam sebuah bangunan jadi langkah cerdas bagi Anda untuk memastikan keselamatan. Ikuti panduan perhitungannya berikut ini.

1. Tentukan Jenis Scaffolding yang Sesuai Sama Proyek

Langkah awal adalah menentukan jenis scaffolding yang digunakan, seperti scaffolding frame, ringlock, atau cuplock. Setiap jenis memiliki kapasitas beban, sistem penguncian, dan fleksibilitas yang berbeda. Misalnya, untuk proyek gedung bertingkat, sistem modular seperti ringlock lebih efisien karena mudah disesuaikan dengan ketinggian dan bentuk bangunan.

2. Lakukan Pengukuran pada Area Proyek

Pengukuran area proyek meliputi panjang dan lebar area yang akan dipasang scaffolding. Data ini menjadi dasar untuk menentukan jumlah set scaffolding yang dibutuhkan secara horizontal. Pengukuran sebaiknya dilakukan langsung di lapangan agar hasilnya akurat dan sesuai kondisi nyata.

3. Tentukan Dimensi Bangunan yang Akan Dicor

Dimensi bangunan, terutama tinggi lantai dan ketebalan slab atau balok yang akan dicor, sangat mempengaruhi konfigurasi scaffolding. Semakin besar dimensi struktur, semakin besar pula beban yang harus ditopang, sehingga perhitungannya harus mempertimbangkan kapasitas maksimum scaffolding.

4. Hitung Jumlah Tingkatan Scaffolding yang Digunakan

Jumlah tingkat scaffolding ditentukan dari tinggi bangunan dibagi tinggi standar satu set scaffolding. Misalnya, jika tinggi lantai 6 meter dan satu set scaffolding memiliki tinggi 1,7 meter, maka dibutuhkan sekitar 4 tingkat scaffolding untuk mencapai ketinggian kerja yang aman.

5. Jumlahkan Scaffolding Horizontal yang Digunakan

Scaffolding horizontal berfungsi sebagai penghubung antar tiang vertikal dan penopang lantai kerja. Jumlahnya dihitung berdasarkan panjang area kerja dan jarak antar frame. Semakin luas area, semakin banyak komponen horizontal yang diperlukan agar struktur tetap stabil.

6. Ukur Jarak antar Scaffolding

Jarak antar scaffolding biasanya berkisar antara 1,2 hingga 1,8 meter, tergantung standar dan jenis scaffolding. Jarak ini memengaruhi jumlah frame dan kekuatan struktur secara keseluruhan. Jarak yang terlalu lebar berisiko mengurangi stabilitas.

7. Hitung Tingkat Ketinggian Scaffolding yang Diperlukan

Selain tinggi total bangunan, Anda juga perlu memperhitungkan tinggi kerja perancahnya, termasuk ruang untuk pekerja dan peralatan. Biasanya ditambahkan margin keamanan sekitar 1 meter dari tinggi struktur agar pekerja dapat bergerak dengan nyaman dan aman.

8. Tentukan Kebutuhan Struktur Bangunan

Jenis pekerjaan, seperti pengecoran beton atau pemasangan bekisting, menentukan beban yang harus ditopang scaffolding. Hitung tiang vertikal, balok horizontal, hingga penyangga yang diperlukan.

9. Jumlahkan Semua Komponen

Cara menghitung kebutuhan scaffolding pada sebuah bangunan yang terakhir adalah menjumlahkan seluruh komponen scaffolding, mulai dari panjang perancah, tinggi bangunan, hingga luas area proyeknya. Dengan daftar komponen yang lengkap, Anda bisa memastikan tidak ada material yang kurang saat pemasangan di lapangan.

Perhitungan Berdasarkan Jenis Pekerjaan

Setelah mengetahui cara menghitung kebutuhan scaffolding sebuah bangunan, sebagai dasar pertimbangan, Anda bisa membaca perbandingan perhitungan berdasarkan jenis pekerjaan berikut ini.

1. Jembatan dan Gedung

Untuk pekerjaan jembatan, dibutuhkan scaffolding yang bisa menahan beban lebih berat, sehingga perhitungannya cukup rumit. Sementara itu, pekerjaan gedung membutuhkan perhitungan kebutuhan perancah lebih sederhana.

2. Pekerjaan Bangunan Tinggi dan Renovasi Rumah

Pada bangunan tinggi, fokus perhitungan ada pada ketinggian dan sistem pengaman tambahan seperti guardrail. Sementara untuk renovasi rumah, scaffolding cenderung lebih sederhana, tetapi tetap harus dihitung agar sesuai dengan area kerja dan tidak mengganggu struktur eksisting.

3. Pemasangan dan Pengecatan Struktur

Untuk pekerjaan pemasangan struktur, membutuhkan scaffolding lebih kuat, sehingga perhitungan kebutuhannya cukup rumit. Berbeda dengan pengecatan yang hanya fokus pada permukaan saja, membuat perhitungan kebutuhannya lebih sederhana.

4. Pekerjaan Industri dan Komersial

Di area industri dan komersial, scaffolding sering digunakan dalam jangka waktu lama. Perhitungannya harus memperhatikan durasi penggunaan, potensi getaran, dan akses perawatan, sehingga struktur tetap aman sepanjang proyek berlangsung.

Menghitung Kebutuhan Scaffolding

Komponen Utama yang Harus Diperhatikan dalam Perhitungan

Meskipun dalam panduan cara menghitung kebutuhan scaffolding sebuah bangunan di atas cukup rumit dan panjang, sebenarnya hanya ada tiga komponen utama yang penting dalam perhitungan, yakni:

1. Lebar Area Proyek

Lebar area menentukan jumlah scaffolding yang dipasang secara horizontal. Area yang lebih lebar membutuhkan lebih banyak frame dan penguat agar struktur tidak mudah bergeser atau melengkung.

2. Panjang Scaffolding

Panjang scaffolding berkaitan langsung dengan luas kerja. Perhitungan yang tepat membantu memastikan tidak ada area kerja yang terlewat atau justru kelebihan material yang tidak terpakai.

3. Tinggi Bangunan

Tinggi bangunan adalah faktor paling krusial dalam perhitungan scaffolding. Semakin tinggi bangunan, semakin besar kebutuhan komponen vertikal dan sistem pengaman tambahan untuk menjaga keselamatan pekerja di ketinggian.

Contoh Perhitungan Kebutuhan Scaffolding

Setelah mengetahui cara menghitung kebutuhan scaffolding pada sebuah bangunan, saatnya Anda menerapkan pada proyek yang akan dijalankan. Sebelum memulainya, Anda bisa simak contoh perhitungan kebutuhan scaffolding melalui komponen utama berikut ini. Misalnya, pada proyek bangunan Anda, memiliki tinggi 15 meter dan luas areanya 150 m²,  maka perhitungan yang bisa dilakukan, yakni:

  • Tiang vertikal: 15 meter / 1,5 meter = 10 tiang
  • Balok horizontal: 150 m² / 2 meter = 75 balok
  • Papan lantai: 150 m² / 1,2 m² *(ukuran papan) = 125 papan

Penutup

Perhitungan kebutuhan scaffolding menjadi langkah awal cerdas yang memastikan pengoperasiannya berjalan lancar, mencegah risiko kecelakaan, serta mengurangi potensi kerusakan peralatan. Namun, perhitungannya tidak bisa dilakukan secara sembarangan karena bisa berdampak pada keselamatan pekerja. Nah, bila Anda berprofesi sebagai operator dan belum memahami cara menghitung kebutuhannya, lebih baik mengikuti pelatihan K3 teknisi dan operator scaffolding di PT Mandiri Maha Daya. Bersama mentor profesional, Anda bukan hanya belajar panduan perhitungan beban scaffolding saja, melainkan juga prosedur aman pengoperasiannya saat berada di ketinggian. Bila pemahaman sudah semakin dalam, Anda akan mengikuti sesi praktik langsung dan uji kompetensi untuk mendapatkan sertifikat K3 Kemnaker RI sebagai bukti kemampuan dalam mengoperasikan scaffolding. Sertifikat inilah yang nantinya akan membantu Anda untuk naik jabatan lebih tinggi di perusahaan. Jadi, langsung saja hubungi kami untuk mulai mengikuti pelatihnnya!