Selain CPR, penggunaan defibrillator AED otomatis P3K pada saat menghadapi seseorang yang tiba-tiba saja pingsan dapat membantu pertolongan pertama. Ketika seseorang tidak sadar dan jantungnya berhenti secara mendadak, harus ditangani sesegera mungkin dan alat ini praktis untuk digunakan.
Apa Itu Defibrillator AED Otomatis?
Cara penggunaan defibrillator AED otomatis P3K memang penting untuk diketahui, tetapi mengetahui lebih jauh alat ini seperti apa juga tidak kalah penting. Dengan memahami alat ini, secara tidak langsung cara kerja nya pun dapat diketahui dengan baik. AED merupakan sebuah defibrillator versi portable sehingga mudah dibawa kemanapun dan digunakan kapanpun. Untuk cara kerjanya sendiri sama seperti defibrillator pada umumnya. Dimana alat ini akan memberikan kejutan listrik terkontrol pada pasien.
Selain itu, AED juga dapat membaca irama jantung secara otomatis seseorang yang mengalami kondisi henti jantung mendadak. Kejutan listrik ini dapat membantu untuk membuat irama jantung kembali. AED ini sendiri biasanya ada di dinding dan tersimpan di kotak berwarna hijau atau pun putih. Alat ini biasanya dengan mudah dapat dengan mudah Anda temukan di pusat kebugaran, sekolah, tempat kerja, bandara ataupun pesawat, dan sebagainya.
Manfaat Penggunaan AED Pada Situasi Darurat
penggunaan defibrillator AED otomatis P3K yang tepat menjadi langkah tepat untuk pertolongan pertama pada seseorang yang mengalami henti jantung secara mendadak. Hal ini karena AEDi berfungsi untuk membuat irama jantung kembali berdetak normal. Tidak hanya itu saja karena alat ini portable, memungkinkan untuk dapat digunakan secara mudah dimanapun dan kapanpun. Adapun penyebab seseorang mengalami kondisi tersebut adalah karena adanya gangguan pada aktivitas jantung sehingga membuat detak jantung tidak beraturan dan kemampuan jantung dalam memompa darah pun terganggu yang membuat jantung berhenti dengan mendadak. Saat kondisi ini, selain melakukan CPR penggunaan AED sangat dibutuhkan untuk bisa mencegah kematian. Dengan pertolongan pertama yang sigap sekaligus tepat, peluang hidup seseorang yang mengalami kondisi ini dapat meningkat. Namun, jika penangan terlambat maka dapat membuat tingkat keselamatan penderita semakin kecil.
Langkah Penggunaan Defibrillator AED Otomatis
Apabila Anda melihat seseorang yang tiba-tiba tidak sadar atau pingsan, segeralah panggil bantuan medis dan mintalah seseorang untuk mencari AED terdekat. Namun, sebelum penggunaan defibrillator AED otomatis P3K, periksalah apakah orang tersebut benar-benar tidak sadar. Apabila ia adalah orang dewasa maka cobalah untuk memanggilanya secara keras atau guncangkan tubuhnya. Namun, jika itu adalah anak kecil, maka cukup untuk mencubitnya. Apabila sudah yakin tidak sadar, maka lakukanlah CPR sebelum akhirnya AED. Adapun untuk penggunanya AED adalah sebagai berikut!
-
Keluarkan alat AED dari kotaknya
Saat mengeluarkan AED, akan ada alarm yang berbunyi. Namun, Anda tidak perlu panik karena ini adalah hal normal. Adapun tujuannya adalah untuk menarik perhatian bahwa ada situasi darurat dan secara tidak langsung tanda bahwa butuh bantuan dari orang lain.
-
Nyalakan AED
Untuk menjalankannya sendiri, ikutilah petunjuk dari suara alat tersebut. Memungkinkan juga bahwa alat ini bisa nyala secara otomatis, ketika Anda penutupnya dibuka.
-
Lepaskan Pakaian
Lepaskanlah seluruh pakaian yang membuat dada tertutup. Setelah itu, cobalah untuk memeriksa apakah kulitnya kering atau basah. Apabila terasa basah, maka lap lah hingga kering karena penggunaan AED pada permukaan basah dapat berbahaya.
-
Tempelkan Bantalan Perekat
Setelah yakin bahwa kulitnya kering, maka lepaskanlah lapisan pelindung yang menempel di dua bantalan untuk sensor. Kemudian bantalan perekat tersebut ditempelkan pada dada orang yang mengalami henti jantung. Bahkan jika diperlukan, masukan kebel konektor batlan pada AED. Gunakan bantalan dewasa, apabila usia orang tersebut di atas 8 tahun atau di atas 55 pon. Namun, jika beratnya kurang atau usianya lebih muda, maka gunakanlah bantalan ukuran untuk anak-anak.
-
Hentikan CPR
Apabila elektroda atau bantalan terpasang, hentikanlah CPR dan tekanlah tombol ‘’analisis’’ pada alat tersebut. Pastikan untuk tidak ada seorang pun yang menyentuh tubuh yang sedang dipasang bantalan. Hal ini dilakukan supaya dapat mencegahkan kesalahan dalam analisis yang dilakukan oleh AED.
-
Ikuti Intruksi Hasil Analisis AED
Apabila analisis sudah selesai, AED akan memberikan informasi kepada Anda, apakah perlu memberikan kejutan listrik lanjutan atau tidak. Jika AED mengkonfirmasi bahwa perlu diberikan kejut listrik lanjutan, maka pastikan tidak ada seorangpun penolong yang menyentuh tubuh (orang yang henti jantung mendadak) sedikitpun. Kemudian, tekanlah tombol yang bertuliskan ‘’shock’’ pada AED untuk memberi kejutan listrik lanjutn. Setelah itu, AED akan memberikan arahan untuk memeriksa denyut nadi dan pernafasan penderita. Apabila belum kembali, AED akan menginstruksi untuk melanjutkan CPR.
Lalu AED akan menganalisa kembali denyut jantung serta menentukan apakah penderita membutuhkan kejut listrik lanjutan atau tidak setelah dua menit. Namun, jika kejutan listrik sudha tidak dibutuhkan lagi, tetapi penderita belum ada tanda kesadaran lakukan CPR seperti yang disarankan oleh AED sampai petugas medis tiba.

Kesalahan Yang Harus Dihindari Saat Menggunakan AED
Menurut penelitian, tingkat kesalahan penggunaan defibrillator AED otomatis P3K mendeteksi maupun membantu mengatasi henti jantu itu hanya sekitar 4%. Sebagian kesalahan terjadi justru karena kelalaian pengguna alat AED itu sendiri.
-
Tidak Memeriksa Secara Rutin
AED yang tidak dirawat secara rutin, kondisi baterai dan bantalan dapat terabaikan begitu saja. Hal ini karena bantalan AED memiliki masa kadaluarsa dan baterai harus diganti setiap 2 tahun hingga 5 tahun sekali. Pemeriksaan rutin ini sendiri, minimal dilakukan setiap sebulan sekali sehingga AED dapat digunakan secara siap ketika berada di situasi darurat.
-
Orang Yang Mengalami Henti Jantung Tubuhnya Basah
Apabila AED digunakan pada orang dengan kondisi tubuh atau bagian dada basah, berada di dekat saat hujan turun maka ini sangat berbahaya. Baik penderita maupun bagi orang yang hendak menolongnya.
-
Panik Atau Ragu Dalam Penggunaan AED
Saat kondisi panik, maka bisa saja Anda melakukan segala sesuatu dengan tergesa-gesa atau bahkan terlalu terlambat dalam mengikuti instruksi. Tentu hal ini dapat membahayakan keselamatan penderita bahkan bagi penolong itu sendiri.
-
Menggunakan AED Dalam Keadaan Yang Bergerak
Penggunaan AED di di dalam mobil yang sedang berjalan, bukanlah langkah yang tepat. Hal ini karena kendaraan yang bergerak bisa saja mengganggu Analisa perangkat AED dan penempatan bantalan pun dapat terpasang secara tidak tepat.
-
Tidak Menghentikan CPR Saat Penggunaan AED
CPR yang dilakukan bersamaan dengan penggunaan alat AED, tidak hanya dapat mengganggu analisis alat. Namun, juga dapat membahayakan nyawa penolong.
-
Salah Menempatkan Bantalan AED
Kesalahan berikutnya yaitu menempel bantalan tidak tepat, dimana seharusnya bantalan pertama berada di bawah tulang selangka kanan. Sementara untuk bantalan kedua itu berada di bawah ketiak sisi kiri.
Hubungan Pelatihan P3K Dengan Penggunaan AED
Hubungan pelatihan dengan penggunaan defibrillator AED otomatis P3K itu sangat erat kaitannya. Hal ini karena melalui pelatihan P3K, Anda akan diajarkan dan dilatih dalam mengenali kondisi darurat saat seseorang henti jantung mendadak. Termasuk cara melakukan CPR hingga penggunaan AED pada anak-anak, bayi, maupun orang dewasa. Selain itu, untuk memaksimalkan penggunaan AED, pelatihan CPR dibutuhkan untuk membantu menyelamatkan nyawa seseorang saat jantungnya berhenti mendadak. Tidak hanya itu saja, ketika sudah terlatih maka Anda dapat meminimalisir rasa gugup ataupun kepanikan karena Anda sudah familiar dengan kondisi tersebut.
Kesimpulan
Penggunaan defibrillator AED otomatis P3K dapat dilakukan dengan memastikan bahwa tubuh penderita sudah dalam keadaan kering dan tidak ada kain yang menutupi dada, nyalakan dan tempelan bantalan untuk analisis, dan ikuti instruksi selanjutnya. Untuk dapat membantu mengembalikan ritme jantung, CPR perlu dilakukan dengan catatan tidak bersamaan saat alat AED digunakan. Namun, penggunaan AED yang tidak tepat pun dapat membahayakan keselamatan penderita maupun penolong. Sehingga pelatihan petugas P3K dibutuhkan untuk mengembalikan ritme jantung menggunakan AED dengan batuan CPR. Untuk pelatihan ini, pastina untuk memilih lembaga terpercaya seperti PT Mandiri Maha Daya yang telah mendapatkan pengakuan secara resmi dan ditunjuk secara resmi oleh Kemnaker RI. Selain menyediakan fasilitas yang lengkap, MMD juga memiliki modul materi yang disusun secara mendalam sesuai dengan K3 nasional.

